EFEK SAMPING VAKSIN COVID 19 ASTRAZENECA

Baca artikel ini untuk memahami efek samping dari vaksin Covid 19 Astrazeneca agar tidak salah pemahaman

EFEK SAMPING VAKSIN COVID 19  ASTRAZENECA
EFEK SAMPING VAKSIN COVID 19  ASTRAZENECA

Liputan Farmasi--

Vaksin Covid-19 Astrazeneca merupakan salah satu vaksin yang digunakan di Indonesia untuk mengatasi covid-19. Vaksin ini merupakan vaksin buatan farmasi Inggris , AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford dan dikembangkan sejak Februari 2020. AstraZeneca menggunakan virus hewan yang tidak berbahata dan sudah mereka lemahkan yang berisi koede genetik untuk protein lojakan virus corona.

Studi klinis mengenai vaksin ini bisa mencegah Covid-19 pada orang yang berusia 18 tahun secara efektif dan aman dengan nilai perlindungan sebesar 63.09 persen. Vaksin ini juga menyebabkan efek samping yang langka dimana bisa menyebabkan penggumpalan darah dan pendarahan otak. Pada Februari, gugatan pertama dilayangkan ke Pengadilan Tinggi Inggris oleh Jamie Scott, seorang pria beranak dua yang mengalami cedera otak serius setelah mengalami penggumpalan darah dan pendarahan di otak usai mendapatkan vaksin itu pada April 2021. Akibatnya, Jamie tidak dapat bekerja.

Penyakit ini juga disebut sebagai 'trombositopenia trombotik imun yang diinduksi vaksin' (VITT). Trombosis adalah pembentukan bekuan darah, yang dapat mengurangi aliran darah normal di pembuluh darah yang terkena. Trombositopenia adalah suatu kondisi dimana tidak terdapat cukup trombosit dalam darah. Trombosit biasanya membantu darah membeku atau menggumpal, sehingga menghentikan pendarahan berlebihan. TTS sendiri merupakan efek samping yang sangat langka yang terlihat pada beberapa orang setelah mendapatkan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Risiko TTS sedikit lebih tinggi pada orang yang berusia kurang dari 60 tahun. Penggumpalan darah dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, antara lain: Otak (disebut trombosis sinus vena serebral, atau CVST), Perut (trombosis vena splanknikus), Paru-paru (emboli paru), Vena ekstremitas (trombosis vena dalam DVT), dan arteri (trombosis arteri).

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus serupa di Indonesia.

"Ini kejadian sangat jarang dan bisa dipengaruhi faktor ras, genetik. Di Indonesia belum ada laporan terkait TTS ini," kata Nadia mengutip detik.

Nadia mengatakan, saat vaksin mendapatkan izin edar maka sudah melalui penelitian empat tahap, mulai dari uji coba lab, hewan, dan manusia, dan dilihat manfaatnya jauh lebih besar dari efek sampingnya.
"Jadi lebih banyak manusia yang selamat dari kematian dan sakit berat dibandingkan yang mengalami efek samping," sambung dia.




What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow