Webinar "ANTIMICROBIAL RESISTANCE : DRUG DEVELOPER PERSPECTIVE AN HERBAL MEDICINE - A Collaborative aproach of hospital setting and herbal medicin for the future"

Berita ini mengenai seminar resistensi antimikroba

Webinar "ANTIMICROBIAL RESISTANCE : DRUG DEVELOPER PERSPECTIVE AN HERBAL MEDICINE - A Collaborative aproach of hospital setting and herbal medicin for the future"
Webinar "ANTIMICROBIAL RESISTANCE : DRUG DEVELOPER PERSPECTIVE AN HERBAL MEDICINE - A Collaborative aproach of hospital setting and herbal medicin for the future"

Liputan Farmasi --

Jakarta, Minggu (9/02/25), dalam rangkaian perayaan HUT PAFI ke 79 PAFI, PD DKI Jakarta mengadakan kegiatan Webinar dengan judul "ANTIMICROBIAL RESISTANCE : DRUG DEVELOPER PERSPECTIVE AN HERBAL MEDICINE - A Collaborative aproach of hospital setting and herbal medicin for the future". Webinar yang dilaksanakan melalui Zoom ini di isi oleh 5 orang pemateri yaitu : 

  1. Prof. Bimo Ario Tejo Ph.D
  2. Apt. Marce Inggritha S.Farm, MSc
  3. Prof. Dr. apt Dyah Aryani Perwitasari MSi, Ph.D Fisqua
  4. Apt. Theresia Maria Wonga, S.Farm, MHLTHECPOL
  5. Apt. Nanda Puspita M.Pharm

Dalam Webinar tersebut, Ketua PD PAFI DKI Jakarta, Bpk. Jatmiko, S.Si memberikan sambutan. Dalam sambutan nya Bpk. Jatmiko menjelaskan bahwa antibiotik telah menyelamatkan berjuta nyawadari berbagai penyakit infeksiyang sring berakibat fatal akibat ketiadaan terapi yang efektif. Resistensi antibiotik akibat penggunaan berlebihan menyebabkan penyakit infeksi yang sebelum nya dapat disembuhkan menjadi lebih sulit untuk diatasi. Lebih lanjut Bpk. Jatmiko menyampaikan kritikal poin terhadap resistensi antibiotik sebagai berikut : 

  1. Resistensi antibiotik berdampak ke semua orang.
  2. Resistensi antibiotik adalah fenomena alami.
  3. Industri farmasi tidak tertarik memproduksi antibiotik.
  4. Sedikit nya sediaan antibiotik baru.
  5. Penggunaan antibiotik di Indonesia tidak terkontrol.
  6. Resistensi antibiotik memerlukan penanganan secara global.

Prof. Bimo Ario Tejo Ph.D dalam kesimpulan materi nya menyatakan bahwa peningkatan populasi global, perjalanan internasional dan penyalah gunaan antibiotik pada manusia dan hewan telah menyebabkan muncul nya mekanisme resistensi antibiotik yang baru, sementara itu industri besar farmasi secara global memiliki minat yang sangat terbatas dalam pengembangan antibiotik. Sedangkan untuk mempercepat penemuan antibiotik baru diperlukan berbagai data yang komprehensif seperti data bioinfomatika, pengembangan mesin, ilmu genomic dan ilmu metabolisme.

Pada materi obat herbal, apt. Marce Inggritha menyampaikan tantangan penggunaan obat herbal yang ada saat ini adalah :

  1. Standarisasi dan kualitas.
  2. Regulasi dan legalitas.
  3. Keamanan dan efek samping.
  4. Kurang nya bukti ilmiah terhadal obat herbal.
  5. Pemahaman konsumen yang keliru terhadap obat herbal.
  6. Isu ketahanan pasokan.
  7. Integrasi dengan sistem Kesehatan yang kurang.
  8. Kurangnya monitoring dan pelaporan efek samping obat herbal.

Lebih lanjut lagi apt. Marce Inggritha menyampaikan cara penggunaan obat herbal yang benar dengan cara : 

  1. Pilih produk yang aman dan terdaftar.
  2. Gunakan sesuai dosis dan indikasi.
  3. Perhatikan interaksi dengan obat lain.
  4. Amati efek samping yang timbul.
  5. Hindari penggunaan obat herbal untuk penyakit serius tanpa konsultasi dengan dokter.

Dalam materi nya, apt. Dyah Aryani memberikan kesimpulan terkait penggunaan antibiotik yang rasional di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai berikut : 

  1. Ketepatan pemberian antibiotik berpotensi kondisi klinis pasien.
  2. Ketepatan pemberian antibiotik dapat menurunkan biayan dan lama rawat inap di rumah sakit.
  3. Peresepan antibiotik yang tidak tepat dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat berpotensi menimbulkan resistensi.
  4. Penggunaan antibiotik empiris dan profilaksis merupakan kunci dari penggunaan antibiotik yang tepat.
  5. Algoritma Gysens merupakan alat ukur kualitatif dalam penggunaan antibiotik.

Apt. Theresia Maria menyampaikan dalam materi nya bahwa Bada Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa resistensi antimikroba merupakan salah satu dari 10 ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi manusia, pemicu meningkat nya resistensi antimikroba adalah penggunaan yang berlebihan dan penyalahgunaan dari antibiotik terhadap manusian dan hewan. Resistensi antimikroba menyebabkan dampak secara global yang memberikan ancama terhadap ketanganan pangan global. Petugas kesehatan termasuk Apoteker dan Tenaga Vokasi Farmasi memiliki tantangan untuk berperan penting dalam menjaga kekuatan obat antimikroba. Peresepan dan pemberian obat yang tidak tepat dapat menyebabkan penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik secara berlebihan jika staf medis kekurangan informasi terkini, tidak dapat mengidentifikasi jenis infeksi, menyerah pada tekanan pasien untuk meresepkan antibiotik atau mendapatkan keuntungan finansial dari penyediaan obat-obatan. Diperlukan peran semua tenaga kesehatan dalam meningkatkan kesadaran da pemaham tentang pengendalian resistensi antimikroba, dan evaluasi penggunaan antimikroba diperlukan dalam meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik.

Sebagai materi penutup, apt. Nanda Mustika membahas tentang Upaya memperkuat kesadaran publik dalam melawan resistensi antibiotik. Dalam pembahasan nya apt. Nanda memfokuskan bahasan pada  :

  1. Resistensi antimikroba dan dampak nya pada berbagai sektor kehidupan.
  2. Persepsi masyarakat terkait resistensi antimikroba.
  3. Peningkatan literasi kesehatan sebagai upaya menjadi masyarakat cerdas obat.

Lebih lanjut lagi apt. Nanda menjelaskan pentingnya meningkatkan literasi kesehatan sebagai jembatan menuju pemahaman tentang resistensi antibiotik. Literasi kesehatan yang dimaksud merupakan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menggunakan informasi tentang kesehatan, keterbatasan terhadap akses informasi kesehatan dapat mempersulit masyarakat dalam membuat keputusan yang baik untuk kesehatan mereka. Tenaga medis berperan penting dalam memberikan edukasi kesetahan khususnya tentang antibiotik kepada masyarakat melalui bahasa awam yang mudah dipahami, selain itu sinergi antara pasien, tenaga profesional dan organisasi profesi dapat meningkatkan literasi kesehatan yang akan menunjang pencegahan resistensi antimikroba.

Webinar yang dilaksanakan ditutup dengan evaluasi terhadapa seluruh peserta webinar untuk mengethaui sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan.

PAFI Bersama Kita Bermakna.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow